AURA GAIB

Hari Naas Menurut Primbon Jawa: Geblak dan Cara Keluarga Menyikapinya

Jawaban Cepat

Hari naas menurut primbon Jawa adalah hari yang dihindari untuk hajat penting, terutama geblak, yaitu hari dan pasaran wafatnya orang tua. Keluarga Jawa tidak menggelar pernikahan, pindah rumah, atau membuka usaha pada weton itu, melainkan mengisinya dengan doa dan ziarah. Weton geblak berulang setiap 35 hari, sehingga keluarga biasa mencatatnya.

  • Geblak: hari dan pasaran wafatnya orang tua
  • Dihindari untuk hajat besar, diisi doa dan ziarah
  • Weton berulang setiap 35 hari, jadi sebaiknya ditulis
  • Bila terpaksa: restu sesepuh, doa, dan selamatan kecil
Ilustrasi kalender Jawa dengan satu hari dilingkari, dua lilin menyala, dan bunga melati di bawah langit malam yang tenang

Tabel Ringkasan Makna Primbon

NoSkenario / KonteksMaknaPertanda
1Geblak orang tuaHari mengenang; tidak dipakai untuk pestaWaspada
2Geblak kakek atau nenekDihindari sebagian keluarga sebagai penghormatanNetral
3Bulan SuraBulan prihatin, hajat besar sering ditundaWaspada
4Hari sangar tiap bulanDaftarnya beragam, tanyakan sesepuh keluargaNetral
5Ziarah dan doa di hari geblakCara mengisi hari naas dengan kebaikanBaik
6Mencatat weton wafat di kalender keluargaMemudahkan generasi berikutnya menyusun hajatanBaik
Daftar Isi
  1. Apa saja yang termasuk hari naas dalam primbon Jawa?
  2. Dari mana tradisi geblak berasal?
  3. Apa makna dan logika di balik larangan hari naas?
  4. Bagaimana cara keluarga menghindari hari naas?
  5. Apakah hari naas masih relevan hari ini?

Hari naas menurut primbon Jawa adalah hari yang dianggap kurang baik untuk memulai hajat penting, dan yang paling dikenal adalah geblak, yaitu hari dan pasaran meninggalnya orang tua. Banyak keluarga Jawa tidak menggelar pernikahan, pindah rumah, atau membuka usaha pada weton tersebut. Hari itu justru disediakan untuk mengenang dan mendoakan almarhum.

Bagi keluarga yang masih memegangnya, larangan ini terasa sangat wajar. Ia bukan soal takut, melainkan soal rasa: bagaimana mungkin berpesta pada hari ketika orang tua dulu berpulang.

Apa saja yang termasuk hari naas dalam primbon Jawa?

Hari naas dalam primbon Jawa mencakup beberapa jenis, dan geblak adalah yang paling luas dipegang. Bunyi larangannya kurang lebih sederhana: jangan memulai hajat besar pada hari dan pasaran wafatnya ayah, ibu, atau leluhur dekat. Jika ayah wafat pada Kamis Wage, misalnya, maka Kamis Wage menjadi hari yang dihindari keluarga itu untuk acara penting.

Jenis hariBunyi pantanganLogika yang bisa dibaca
Geblak orang tuaTidak menggelar hajat pada weton wafatnya orang tuaMenjaga rasa hormat dan suasana berkabung keluarga
Geblak leluhur dekatSebagian keluarga juga menghindari weton wafat kakek atau nenekMemelihara ingatan lintas generasi
Bulan SuraMenunda pesta dan memperbanyak laku prihatinWaktu untuk introspeksi di awal tahun Jawa
Hari sangar tiap bulanSebagian primbon menyebut hari tertentu yang kurang baikDaftarnya beragam antarsumber, perlu ditanyakan ke sesepuh

Selain geblak, dalam primbon Jawa juga dikenal hari-hari yang disebut sangar atau kurang baik pada bulan tertentu, misalnya yang dikenal dengan istilah taliwangke. Daftar hari semacam ini berbeda antara satu sumber dan sumber lain, sehingga keluarga biasanya mengikuti pegangan sesepuhnya sendiri.

Dari mana tradisi geblak berasal?

Tradisi geblak tumbuh dari cara orang Jawa memandang kematian sebagai peristiwa yang terus dikenang, bukan diakhiri begitu saja. Hal ini terlihat dari rangkaian selamatan setelah seseorang wafat, mulai dari hari ketiga, ketujuh, keempat puluh, keseratus, sampai seribu hari. Rangkaian itu dibahas lebih lengkap di artikel tradisi selamatan orang meninggal dalam adat Jawa.

Karena kalender Jawa memadukan tujuh hari dan lima pasaran, setiap weton berulang setiap 35 hari atau satu selapan. Artinya, geblak orang tua datang kembali sekitar sepuluh kali dalam setahun. Sebagian keluarga menghindari setiap kali weton itu muncul, sebagian lagi hanya menghindari hari yang sama tanpa melihat pasaran, dan ada pula yang terutama menjaga peringatan tahunannya.

Tradisi ini hidup kuat di Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur, serta dibawa oleh keluarga Jawa yang merantau ke berbagai daerah. Di keluarga perantau, catatan geblak sering diwariskan dari orang tua kepada anak secara lisan, lalu kini banyak yang menyimpannya di kalender ponsel.

Apa makna dan logika di balik larangan hari naas?

Makna utamanya adalah penghormatan: hari wafat orang tua diperlakukan sebagai hari mengenang, sehingga tidak dipakai untuk bersuka cita. Dengan menjaga geblak, anak dan cucu diingatkan secara berkala tentang asal-usul mereka dan tentang orang-orang yang pernah membesarkan mereka.

Dari sudut pandang psikologi, peringatan hari wafat memang sering membawa kembali rasa kehilangan, bahkan bertahun-tahun kemudian. Banyak orang merasakan suasana hati yang lebih sendu menjelang tanggal tersebut. Menggelar pesta pada hari itu bisa membuat sebagian anggota keluarga merasa canggung atau sedih di tengah keramaian, dan larangan geblak mencegah situasi tersebut tanpa perlu dijelaskan panjang lebar.

Ada pula sisi praktisnya. Hajatan besar membutuhkan kehadiran seluruh keluarga, dan pada hari geblak sebagian kerabat mungkin sudah berencana berziarah atau mengadakan doa. Memilih hari lain membuat semua pihak bisa hadir dengan hati lapang.

Larangan ini juga bekerja sebagai pengingat yang lembut. Tanpa disadari, setiap kali keluarga menyusun rencana dan memeriksa weton geblak, nama orang tua yang telah tiada disebut kembali. Kebiasaan kecil seperti ini menjaga ikatan keluarga tetap hangat, sekaligus mengajarkan anak-anak bahwa orang yang sudah berpulang tetap punya tempat dalam keputusan keluarga.

Antara tradisi dan agama

Dalam ajaran Islam dan banyak agama lain, tidak ada hari yang sial pada dirinya, dan setiap waktu bisa menjadi baik bila diisi dengan kebaikan. Banyak keluarga Jawa menyelaraskan keduanya dengan cara sederhana: geblak dihormati sebagai adat dan hari berdoa, bukan diyakini sebagai sumber celaka. Perbedaan sikap ini patut dihargai satu sama lain.

Bagaimana cara keluarga menghindari hari naas?

Cara paling umum adalah mencatat weton wafat setiap orang tua dan leluhur dekat, lalu memeriksanya setiap kali merencanakan acara. Langkah-langkah yang biasa dijalankan keluarga antara lain sebagai berikut.

  1. Catat geblak di satu tempat. Tuliskan hari, pasaran, dan tanggal wafat di buku keluarga atau kalender bersama. Jika tanggal wafat diketahui tetapi wetonnya belum, kalkulator weton bisa membantu menemukannya.
  2. Wariskan informasinya. Beri tahu anak dan menantu, terutama yang kelak akan menyusun hajatan sendiri.
  3. Periksa sebelum menetapkan tanggal. Saat mencari hari baik pernikahan atau hajat lain, coret dulu weton geblak dari daftar pilihan.
  4. Isi hari geblak dengan kebaikan. Banyak keluarga memakainya untuk ziarah, doa bersama, atau bersedekah atas nama almarhum.

Jika acara tidak bisa dipindah, misalnya karena jadwal kantor atau keputusan pihak lain, keluarga biasanya menempuh jalan tengah. Mereka sowan kepada sesepuh, mengadakan doa atau selamatan kecil sebelum acara, dan mendoakan almarhum lebih dulu. Ada juga yang memisahkan waktu, misalnya akad dilakukan pada hari lain dan resepsi saja yang jatuh pada tanggal tersebut.

Apakah hari naas masih relevan hari ini?

Bagi banyak keluarga, hari naas tetap relevan karena nilai yang dijaganya tidak lekang: hormat kepada orang tua, kepekaan terhadap perasaan keluarga, dan kebiasaan berdoa untuk yang telah tiada. Nilai-nilai itu tetap bermakna, apa pun keyakinan pribadi Anda tentang hitungan primbon.

Menyikapinya dengan bijak berarti tidak menjadikannya sumber cemas. Jika hari naas menurut primbon Jawa ternyata bertabrakan dengan rencana Anda, bicarakan dengan keluarga, jalankan ikhtiar yang dianjurkan, lalu lanjutkan dengan tenang. Yang paling penting adalah orang tua dihormati dan keluarga tetap rukun. Artikel lain seputar hitungan Jawa dapat Anda temukan di halaman primbon.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Apa itu geblak dalam primbon Jawa?
Geblak adalah hari dan pasaran wafatnya seseorang, terutama orang tua. Dalam banyak keluarga Jawa, weton geblak dihindari untuk hajat besar dan diisi dengan doa atau ziarah.
Seberapa sering hari geblak datang kembali?
Karena weton berulang setiap 35 hari, hari dan pasaran yang sama muncul kembali sekitar sepuluh kali dalam setahun. Sebagian keluarga menghindari setiap kemunculannya, sebagian hanya menjaga peringatan tahunannya.
Bagaimana jika acara penting terpaksa jatuh pada hari geblak?
Jalan tengah yang lazim adalah meminta restu sesepuh, mengadakan doa atau selamatan kecil sebelum acara, mendoakan almarhum lebih dulu, atau memisahkan akad dan resepsi pada hari yang berbeda.
Apakah hari naas bertentangan dengan ajaran agama?
Banyak keluarga memandang geblak sebagai adat untuk menghormati orang tua, bukan keyakinan bahwa hari itu membawa celaka. Dalam banyak agama, setiap hari pada dasarnya baik, sehingga hari geblak sering diisi dengan doa dan sedekah.

Baca Juga